cerdas
Kerja Pintar
Ada dua orang murid yang disuruh gurunya untuk mencari kayu bakar dihutan, sebanyak mungkin.
Siapa yang paling banyak mengumpulkan kayu bakar dialah yang akan diangkat menjadi murid teladan.
Sang guru memberi masing-masing sebilah parang sebagai alatnya, waktunya besok pagi jam 5 pagi sampai 5 sore.
Murid pertama berfikir besok pagi harus bekerja keras, maka dia harus beristirahat hari ini
supaya kekuatannya berlipat-lipat untuk mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak.
Tetapi Murid kedua segera mengambil parang dan merabanya, ternyata parang itu sudah tua dan tumpul.
Maka dia segera mengasahnya. setelah tajam, dia berfikir untuk mempersiapkan tali dan pikulan untuk mengangkut kayu bakar besok,
maka dipersiapkan semua itu untuk kerja besok.
Keesokan harinya, murid pertama yang sudah berencana akan bekerja keras, bangun tepat waktu dan langsung berangkat ke hutan.
Sementara itu, murid kedua masih tidur.
Tepat jam enam pagi, murid kedua bangun.
Sekali lagi ia segera mencari batu asah dan mengasah parangnya sampai benar-benar tajam.
Kemudian ia mencari tali dan tongkat pikulan.
Setelah semua perlengkapan siap, ia segera berangkat ke hutan, jam menunjukkan pukul tujuh lebih.
Lalu dengan cepat ia dapat mengumpulkan kayu lebih banyak.
Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, pekerjaannya selesai.
Ia segera mengikatnya menjadi dua dan memikulnya pulang.
Sesampainya di rumah, diserahkannya ranting-ranting tersebut kepada gurunya.
Ia berhasil mendapat banyak ranting dan pulang lebih cepat.
Sementara itu, murid pertama, karena tidak mengasah parangnya,
harus menggunakan waktu dan energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon.
Dengan demikian ia juga memerlukan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat karena kelelahan.
Belum waktu yang ia gunakan untuk mencari tali pengikat.
Selain itu, dengan caranya membawa ranting kayu yang dipanggul di pundaknya, jumlah yang bisa dibawanya juga terbatas.
Ada dua orang murid yang disuruh gurunya untuk mencari kayu bakar dihutan, sebanyak mungkin.
Siapa yang paling banyak mengumpulkan kayu bakar dialah yang akan diangkat menjadi murid teladan.
Sang guru memberi masing-masing sebilah parang sebagai alatnya, waktunya besok pagi jam 5 pagi sampai 5 sore.
Murid pertama berfikir besok pagi harus bekerja keras, maka dia harus beristirahat hari ini
supaya kekuatannya berlipat-lipat untuk mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak.
Tetapi Murid kedua segera mengambil parang dan merabanya, ternyata parang itu sudah tua dan tumpul.
Maka dia segera mengasahnya. setelah tajam, dia berfikir untuk mempersiapkan tali dan pikulan untuk mengangkut kayu bakar besok,
maka dipersiapkan semua itu untuk kerja besok.
Keesokan harinya, murid pertama yang sudah berencana akan bekerja keras, bangun tepat waktu dan langsung berangkat ke hutan.
Sementara itu, murid kedua masih tidur.
Tepat jam enam pagi, murid kedua bangun.
Sekali lagi ia segera mencari batu asah dan mengasah parangnya sampai benar-benar tajam.
Kemudian ia mencari tali dan tongkat pikulan.
Setelah semua perlengkapan siap, ia segera berangkat ke hutan, jam menunjukkan pukul tujuh lebih.
Lalu dengan cepat ia dapat mengumpulkan kayu lebih banyak.
Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, pekerjaannya selesai.
Ia segera mengikatnya menjadi dua dan memikulnya pulang.
Sesampainya di rumah, diserahkannya ranting-ranting tersebut kepada gurunya.
Ia berhasil mendapat banyak ranting dan pulang lebih cepat.
Sementara itu, murid pertama, karena tidak mengasah parangnya,
harus menggunakan waktu dan energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon.
Dengan demikian ia juga memerlukan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat karena kelelahan.
Belum waktu yang ia gunakan untuk mencari tali pengikat.
Selain itu, dengan caranya membawa ranting kayu yang dipanggul di pundaknya, jumlah yang bisa dibawanya juga terbatas.
Komentar